Archive for the ‘ Celoteh ’ Category

Persiapan Perjalanan Dinas

Sebenarnya tulisan ini gag penting bgt ya… hehe..

Tapi siapa tahu, bisa mengingatkan anda yg hendak keluar kota beberapa barang yang mungkin tertinggal.

Suamiku

Suamiku relatif sering ke luar kota dalam waktu yang cukup lama. Berikut barang-barang yang biasanya aku siapkan untuknya :

  1. pakaian dalam + kaos kaki
  2. baju kemeja untuk formal + celana
  3. baju kaos untuk santai + celana
  4. peralatan pribadi : parfum, sikat gigi, odol, sabun cair, shampoo, pencukur kumis.
  5. sari kurma agar ia fit.
  6. Jam tangan, HP + charger, dompet
  7. sarung dan Al Quran ukuran kecil
  8. Jika ke daerah berhawa dingin, plus jaket

Hal-hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan, ia sendiri yang menyiapkan seperti :

  1. alat tulis
  2. laptop + charger + flash disc + external hard disc + modem internet + kamera + kartu nama
  3. berkas2 pekerjaannya.

Biasanya ia bawa baju secukupnya krn ada fasilitas laundry dr kantornya.

Aku siapkan peralatan mandi krn ia tidak suka pny hotel. Sedangkan handuk ia msh mau pakai pny hotel.

Aku

Kalo aku jarang ke luar kota. Namun isi tasku lebih heboh lagi. hehehe..

selain hal-hal di atas aku plus :

– mukena, make up, jilbab, peniti, jumlah baju lbh byk.

– setrikaan krn aku gag suka baju yang ada bekas lipatannya. hadooohhh.

– MP4 dan buku untuk hilangkan suntuk.

Advertisements

kucing dendam

td malem, pas buka pintu tau2 kucing masuk. spontan aku usir. lha wong bukan rumah dia. akhirnya keluarlah kucing itu.

paginyaa…

deng-deng…

dia (maaf) pup di depan pintu !!!

dasar kucing !!!

Penggusuran Rumah Dinas TNI

Semalam lihat berita di TV One, tentang penolakan para keluarga purnawirawan terhadap penggusuran di rumah dinas TNI.

Para keluarga purnawirawan menolak dengan berbagai alasan. Diantaranya, tidak memiliki tempat tinggal lain, merasa bapaknya telah berjasa, merasa telah memperbaiki rumah tersebut, merasa telah memiliki rumah tersebut dan memiliki surat resmi permohonan tinggal.

TNI menggusur dengan alasan, rumah dinas itu sebenarnya adalah rumah yang diperuntukkan bagi prajurit TNI yang masih aktif bekerja. TNI juga berdalih, mereka telah memberikan toleransi hingga para purnawirawan itu meninggal dunia dan bahkan hingga janda mereka wafat. Jadi tidak diperuntukkan bagi anak-cucunya.

Tentu saya tak memiliki kapasitas untuk mengomentari kasus tersebut. Saya bukan orang militer dan bukan pengamat militer. Akan tetapi, kasus tersebut, menggugah hati saya, memberikan saya hikmah dalam menjalankan hak dan kewajiban saya.

Di satu sisi, TNI benar, para prajurit yang aktif tentu lebih berhak atas rumah dinas tersebut. Sehinga TNI berhak menggusur keluarga penghuni lama. Namun, apakah TNI telah memberikan pelayanan memadai bagi rumah dinas tersebut? Misalnya, kerusakan rumah, air dan listrik. Jangan sampai para penghuni yang menanggungnya. Atau jika memang itu kewajiban penghuni rumah, apakah TNI telah mengkomunikasikannya? Sehingga, tidak timbul “sense of belonging” para penghuni.

Apakah TNI telah melakukan sosialisasi dengan baik, sehingga keluarga mengetahui dan siap untuk meninggalkan rumah itu pada waktunya. Yang juga tak boleh dilupakan adalah “komunikasi”. TNI hendaknya menggunakan komunikasi yang baik dan pendekatan yang personal dengan para keluarga purnawirawan. Serta menjadikan ini pelajaran agar tidak berulang kasus serupa dengan penghuni yang baru. Perlu ada aturan yang jelas dan tegas.

TNI tentu juga akan lebih baik bila tak hanya menyediakan rumah dinas, tapi juga membantu para prajuritnya dalam kepemilikan rumah murah. Sehingga mereka merasa aman meninggalkan keluarga ketika berada di garda depan.

Di sisi lain, keluarga para purnawirawan tentu harus berbesar hati. Meninggalkan rumah yang bukan miliknya dengan segala kenangan yang ada. Keluarga harus memahami, jangankan untuk rumah tinggal, masjid atau rumah ibadah yang dibangun di atas lahan yang bukan milik, tidak diperbolehkan. Lihatlah, kondisi prajurit yang masih aktif, tidaklah lebih baik dari mereka. Usahakan untuk tidak menggunakan yang bukan hak kita. Insya Allah lebih berkah. Tuhan tidak tidur dan tidak lalai. Biar susah, biar ngontrak, sesuatu yang hak, jauh lebih berkah…

Semoga kasus ini tidak berlarut-larut bahkan hingga menimbulkan aksi kekerasan.

Advertisements