Penggusuran Rumah Dinas TNI

Semalam lihat berita di TV One, tentang penolakan para keluarga purnawirawan terhadap penggusuran di rumah dinas TNI.

Para keluarga purnawirawan menolak dengan berbagai alasan. Diantaranya, tidak memiliki tempat tinggal lain, merasa bapaknya telah berjasa, merasa telah memperbaiki rumah tersebut, merasa telah memiliki rumah tersebut dan memiliki surat resmi permohonan tinggal.

TNI menggusur dengan alasan, rumah dinas itu sebenarnya adalah rumah yang diperuntukkan bagi prajurit TNI yang masih aktif bekerja. TNI juga berdalih, mereka telah memberikan toleransi hingga para purnawirawan itu meninggal dunia dan bahkan hingga janda mereka wafat. Jadi tidak diperuntukkan bagi anak-cucunya.

Tentu saya tak memiliki kapasitas untuk mengomentari kasus tersebut. Saya bukan orang militer dan bukan pengamat militer. Akan tetapi, kasus tersebut, menggugah hati saya, memberikan saya hikmah dalam menjalankan hak dan kewajiban saya.

Di satu sisi, TNI benar, para prajurit yang aktif tentu lebih berhak atas rumah dinas tersebut. Sehinga TNI berhak menggusur keluarga penghuni lama. Namun, apakah TNI telah memberikan pelayanan memadai bagi rumah dinas tersebut? Misalnya, kerusakan rumah, air dan listrik. Jangan sampai para penghuni yang menanggungnya. Atau jika memang itu kewajiban penghuni rumah, apakah TNI telah mengkomunikasikannya? Sehingga, tidak timbul “sense of belonging” para penghuni.

Apakah TNI telah melakukan sosialisasi dengan baik, sehingga keluarga mengetahui dan siap untuk meninggalkan rumah itu pada waktunya. Yang juga tak boleh dilupakan adalah “komunikasi”. TNI hendaknya menggunakan komunikasi yang baik dan pendekatan yang personal dengan para keluarga purnawirawan. Serta menjadikan ini pelajaran agar tidak berulang kasus serupa dengan penghuni yang baru. Perlu ada aturan yang jelas dan tegas.

TNI tentu juga akan lebih baik bila tak hanya menyediakan rumah dinas, tapi juga membantu para prajuritnya dalam kepemilikan rumah murah. Sehingga mereka merasa aman meninggalkan keluarga ketika berada di garda depan.

Di sisi lain, keluarga para purnawirawan tentu harus berbesar hati. Meninggalkan rumah yang bukan miliknya dengan segala kenangan yang ada. Keluarga harus memahami, jangankan untuk rumah tinggal, masjid atau rumah ibadah yang dibangun di atas lahan yang bukan milik, tidak diperbolehkan. Lihatlah, kondisi prajurit yang masih aktif, tidaklah lebih baik dari mereka. Usahakan untuk tidak menggunakan yang bukan hak kita. Insya Allah lebih berkah. Tuhan tidak tidur dan tidak lalai. Biar susah, biar ngontrak, sesuatu yang hak, jauh lebih berkah…

Semoga kasus ini tidak berlarut-larut bahkan hingga menimbulkan aksi kekerasan.

Advertisements

saus spaghetty ala aku

ini dia resep spageti ala aku..

spageti ;

spaghetty, rebus di air mendidih, kasih sedikit minyak goreng biar gag lengket, aku juga kasih sedikit bubuk oregano (dibeli di tempat bumbu kering di supermarket)

saus spageti

3 buah tomat segar yang merah banget tapi gag busuk yaa.. trus diris tipis biar gampang hancur. tomat yang merah dan segar lebih lezat dan warnanya juga lbh cantik.

1/2 bawang bombay

3 siung bawang putih keprek, cincang

2 siung bawang merah iris tipis.

1 sdm saus tiram

3 sendok makan saus cabai

lada bubuk, garam, gula, oregano bubuk (secukupnya dan sesukanya)

100 ml air plus 1 sdm tepung maizena

cara bikin :

tumis bawang putih, bawang merah n bawang bombay. masukkan tomat segar sampai hancur, masukkan saus tiram, saus cabai, lada, garam, gula, oregano.

jadiii deehh.. gampang n yummy lagi…

notes :

kalo mo tambahin sosis, bakso, daging cincang ato jamur, bisa setelah tumis bawang yaa..

aku gag suka saos tomat, jd kuganti dengan tomat segar.  sebenarnya aku juga suka nambahin cabe biar lebih pedas.aku juga ga pernah pk MSG ato kaldu bubuk.

buat aku, resep ini dah enak bgt.. hehehe.. biasanya aku lebih suka bikin langsung banyak trus simpen di kulkas buat topping roti tawar juga oke. campur mayones en telur dadar… jadi sandwich deehh…

Saat iseng

saat iseng, gada kerjaan en gada yg bisa dikerjain, biasanya aku coba lakuin ini (biasanya pas ditinggal misua keluar kota):

1. nyoba resep2 baru yang mudah.

2. bebenah rumah, bersih2-bersih, utak-atik susunan furniture.

3. bersihin kulkas

4. rapihin lemari

5. nyewa komik / novel dkt rumah.

6. beli/sewa DVD

7. luluran, maskeran n creambath d rumah .. huhu.. i like it

gag 7-7nya dilakuin sih.. tergantung mood…

Tips Herbal untuk Kista

Seorang teman menceriterakan kepadaku soal penyakit kistanya. Dokter bilang, itulah penyebab hingga beberapa tahun menikah belum juga ia dikarunia anak.
Aku jadi ingat pengalaman ibuku berjibaku menyembuhkan kista kakakku. Dokter memberi waktu 2 minggu untuk persiapan operasi. Karena kistanya sudah cukup besar.

Alhamdulillah, dengan meminum resep ini, kista kakakku sembuh dalam tempo 2 minggu. Sehingga tak perlu dioperasi. Dokter bilang ini keajaiban. Buat kami, ini kehendak Allah karena usaha dan do’a…

Nah, inilah resepnyaa..

Ramuan I
kunyit putih segar sebesar jempol
temu mangga segar sebesar jempol
dikupas, cuci. Iris tipis dan rebus.
(Jangan direbus di panci aluminium)
diminum hangat-hangat

Ramuan II
Peterseli 1 cangkir
Wortel 3 buah
Di jus..
Diminum selang 1 jam setelah minum ramuan I

Insya Allah, kistanya sembuh… jangan lupa selalu berdo’a yaa…

Totto Chan Dalam Perspektifku Dulu Dan Kini

Hari itu tahun 90an di toko buku di Pasar Senen. Saat itu aku masih SD. Aku meminta ibuku dibelikan sebuah buku penuh warna-warni berjudul Cinderella. Aku sudah tahu jalan cerita Cinderella dari buku seorang teman, tapi buku itu tampak menarik dan aku ingin memilikinya. Alih-alih membelikan buku tersebut, ibuku justru memilihkan buku yang tampak tebal dan isinya tidak berwarna :
“Totto Chan Gadis Cilik di Jendela”

Dengan berat hati, aku menurutinya, dan memulai membacanya. Aku menyukainya, walaupun buku itu terasa relatif berat bagiku untuk dipahami. Nama-nama tokoh juga terasa aneh bagiku. Bahkan aku sempat mengira Totto Chan adalah anak laki-laki. Bagiku, Totto Chan adalah orang yang bandel dan baik hati dan ia sungguh beruntung bisa bersekolah di gerbong kereta dan memiliki pengalaman yang menyenangkan. Hanya itu saja yang ada di benakku. Buku itu entah sudah dimana sekarang. Aku sudah berusaha mencarinya di rumah ortuku tapi tak ketemu.

Sungguh tak kuduga, buku-dengan latar pra, saat dan pasca perang pacifik-itu bila kubaca lagi dengan otak dewasaku, menjadi semakin menakjubkan. Bila dulu perspektif hanya tertuju pada Totto Chan, sekarang ini aku melihat pak Kobayashi sang kepala sekolah yang seorang pendidik tulen.

Bagaimana ia memperlakukan setiap muridnya dengan khas, mensugesti mereka, memaksimalkan potensi tiap siswa, menyederhanakan hal-hal sulit dan yang terpenting menjadikan sekolah sebagai sesuatu yang menyenangkan. Sehingga mereka menjadi bersemangat sekolah. Tentu saja itu dapat beliau lakukan dengan tidak instant. Beliau sempat berkunjung ke beberapa negara untuk mempelajari hal tersebut dan mengadopsinya. Aku juga mengagumi orang tua Totto Chan dan sikap Totto Chan yang serba ingin tahu.

Wajarlah kiranya bila buku karya Tetsuko Kuroyanagi (Totto Chan itu sendiri) ini menjadi best seller di Jepang. Bahkan beberapa bab pada buku ini menjadi bagian dari kurikulum. Sungguh beruntung aku pernah membaca buku ini dalam dua perspektif. Perspektifku di masa kanak-kanak dan sekarang, saat aku akan menjadi seorang ibu. Semoga aku dapat menjadi Ibu yang baik bagi anak-anakku kelak. Amin..

Ini linknya bila anda ingin e-booknya :

http://www.mediafire.com/?9i21w5ymvg2

Aku Yakin Dengan Doaku…

Aku diajarkan berdoa oleh kedua ortuku sejak aku TK. Ortuku bilang, kalo aku berdoa pasti dikabulkan oleh Allah. Dan, tentu saja aku percaya. Memang sebaiknya pendidikan agama sejak dini ditanamkan.

“Kalo aku berdoa biar bisa terbang, bisa ga, yah?”

“Bisa, tapi nanti terbangnya dengan pesawat” jelas ayahku.

“kalo aku doa biar bisa bertemu presiden, bisa?”

“Bisa donk, do’a saja” ujar ayahku.

Maka, aku, bocah TK, berdoa agar dapat bertemu presiden Soeharto. yang dimataku saat itu keren banget.

Sungguh tak kuduga, beberapa tahun kemudian, tepatnya aku kelas V SD, aku dapat bertemu dengan beliau dalam rangka Hari Anak Nasional di TMII.

Untuk pertama kalinya SDku diundang. Dan karena aku termasuk 10 besar, aku diperbolehkan ikut serta.

Tak terbayangkan perasaanku saat itu. Dapat bertemu beliau yang sangat kebapakan. beliau berpesan agar belajar yang rajin dan sekolah tinggi.

Itulah sekelumit kisahku dan doaku. masih banyak doa2ku yang lain yang aku merasa dikabulkan. meskipun dosaku jauh lebih banyak dari doaku. Dan meskipun kadang, terasa tidak mungkin.

Tapi aku yakin dengan doaku. Karena aku yakin Tuhanku maha berkuasa. Tak ada yang tak mungkin baginya. Tak ada yang dapat menghalangi sesuatu yang Ia beri. Dan tak ada yang dapat memberi sesuatu yang Ia halangi.
Maka berdo’alah.. dan jangan lupa untuk konsisten beribadah…

Jangan Berputus asa atas Rahmat Allah

Jakarta, tahun 70an

Seorang PNS golongan rendah, di pertengahan bulan sedang gundah. Ia betul2 tidak memiliki uang sama sekali. Jangankan untuk makan, untuk ongkos angkot pun ia tak punya. Namun, ia tetap berangkat kerja. Karena bekerja adalah kewajiban. Dengan berjalan kaki dari menteng ke cikini seraya berdoa semoga Allah selalu memberi kemudahan.

Sebenarnya, meski gaji selalu pas-pasan, tak pernah uangnya habis di tengah bulan seperti sekarang ini. Namun, beberapa hari yang lalu, beberapa pemuda di kampungnya yang akan merantau ke jakarta menginap beberapa hari di kontrakannya. Dan tentu saja, sebagai tuan rumah ia menjamu mereka.

Setiba di kantor, tiba-tiba ia diajak oleh tim tata kota untuk bergabung. Tim itu bermaksud mensurvey tempat2 di jakarta, untuk dijadikan pasar, sekolah, dan sarana publik lain.

Setalah mensurvey tempat dan menentukan lokasi, tim tersebut mengajaknya makan siang. Sungguh, rejeki yang tak disangkanya. Ia ditraktir makan siang di restoran Roda, restoran padang yang terkenal saat itu dan bergengsi. Namun, keajaiban tak sampai di situ. Setelah tiba di kantor, ia diberi honor Rp. 5.000, (di atas gajinya sebulan saat itu). Tak henti-hentinya ia bersyukur pada Allah atas rejeki yang telah didapatnya.

Sore hari, saat akan pulang kerja, tiba-tiba ia dipanggil oleh atasannya.
”Silahkan masuk, saya hanya ingin memberi kamu ini” ujarnya sambil menyerahkan amplop. ”Jangan menolak, anggaplah itu rejeki. Itu uang saya pribadi” ujar atasannya.

Ketika ia buka, Subhanallah… Rp. 10.000 !!!
Ia berangkat dengan kantong dan perut kosong. Pulang dengan hati gembira, perut kenyang dan kantong penuh. Uang beberapa bulan gaji, ia dapat dalam satu hari.

Itulah Tuhan, mungkin hari itu ia ingin menguji keikhlasan hambanya untuk bekerja dalam keadaan paling sulit sekalipun. Meskipun dengan berjalan kaki. Dan mungkin juga karena ia telah berbaik hati menjamu tamu-tamu dari kampung. Bayangkan jika ia hari itu berputus asa atas rahmat Allah, dengan tidak masuk kerja. Mungkin ia tak mendapatkan apa-apa.

Semoga kita dapat mengambil hikmah atas pengalaman bapak itu.

Advertisements